Febby Ulvia Agustine

Monday, 17 August 2015

kokohkan sebuah kepercayaan




Setiap manusia hidup untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Kepercayaan menjadi mahal harganya ketika seseorang tersebut ingin dirinya dihormati dan dihargai. Kepercayaan adalah sesuatu hal yang tertanam pada diri setiap orang kepada seseorang yang ia percayai. Kepercayaan bisa diartikan juga seperti menaruh sebuah harapan. Kepercayaan akan hilang dan berubah arti menjadi sebuah kesia-siaan saat kepercayaan tersebut dikhianati. Kepercayaan layaknya sebuah kertas putih yang rapi dan bersih. Kemudian kertas tersebut kita remas menjadi lecek dan kusam, lalu kita menyadarinya dan terlintas sebuah pertanyaan “Akankah kertas tersebut kembali seperti semula? Bersih dan rapi?” Tentu jawabannya “Tidak, mengapa?” Karena sekali kita remas kertas tersebut tidak akan kembali sempurna. Sama halnya seperti sebuah kepercayaan.
Sebagai contoh simple: kita diberikan kepercayaan oleh orang lain, lalu dengan mudah kita khianati kepercayaan itu semua. Apakah masih tersisa sebuah kepercayaan tersebut? Jawabannya tentu TIDAK! Mengapa? Karena seseorang yang telah dikhianati sebuah kepercayaannya akan sulit mengembalikan itu semua. Sebenarnya menjaga sebuah kepercayaan sangatlah mudah, ketika kita memang yakin dan bisa menjaganya maka semua itu akan berjalan baik. Nah bisa diibaratkan juga kepercayaan seperti pondasi awal sebuah bangunan. Akan tercipta sebuah bangunan yang kokoh dan indah ketika pondasi tersebut sangat kuat dan mampu menopang bangunan-bangunan lain.
Ada kepercayaan dalam usaha nih, Kepercayaan adalah kekuatan “daya tarik” yang luar biasa untuk mengundang peluang ber-transaksi. Kalau melihat penjelasan para pakar marketing, transaksi adalah sasaran riil jangka pendek yang dicapai oleh kesepakatan antarpihak. Transaksi ini pada hakekatnya bukan saja akan dilakukan oleh para pedagang atau pembisnis, tetapi akan dilakukan oleh semua orang yang menjalankan aktivitas usaha, apapun usaha itu, termasuk juga bekerja.
Selanjutnya, Kepercayaan akan mampu mengurangi sekian persen potensi problem dalam hubungan antarmanusia. Hubungan yang saya maksudkan di sini bisa hubungan apa saja, mungkin bisnis, mungkin profesi, rumah tangga, persahabatan dan lain-lain. Seperti yang kita alami, hubungan kita dengan orang lain itu tak hanya menjadi sumber solusi. Terkadang juga menjadi sumber problem. Problem inipun ada yang berupa kesulitan, dilema, dan misteri. Pokoknya, warna-warni problem itu bisa dikatakan tak terhitung.

Jika dicek ulang apa saja yang menjadi pemicu munculnya problem dalam hubungan, saya yakin kepercayaan termasuk salah satu faktor yang terbesar. Jika kepercayaan itu ada dalam sebuah hubungan memang tidak berarti problem akan hilang, tetapi jika kepercayaan itu sudah hilang, dipastikan akan banyak muncul problem. Problem yang diakibatkan oleh hilangnya kepercayaan ini biasanya melahirkan sebuah ketidakpercayaan.
Kepercayaan itu datangnya dari orang lain tetapi alasannya dari kita. Artinya, ada dua pihak yang terlibat di sini. Karena itu sangat mungkin terjadi kasus penyimpangan. Misalnya saja, kita mempercayai orang yang tidak atau belum layak dipercaya. Atau juga, kita belum atau tidak dipercaya orang lain padahal kita sudah menyiapkan alasan untuk dipercaya. Kebanyakan orang sudah mengetahui apa saja yang perlu dilakukan untuk membangun kepercayaan dan mengetahui apa saja yang perlu dihindari karena akan merusak kepercayaan orang. Tetapi sayangnya hanya sedikit orang yang mau dan mampu melakukannya. Padahal, pada akhirnya kepercayaan itu butuh pembuktian, bukan pernyataan.
Kasarnya, biarpun kita sudah ahli di bidang tertentu, tetapi kalau belum ada orang yang mempercayai keahlian kita, keahlian itu manfaatnya masih belum banyak buat kita. Mungkin atas dasar inilah George MacDonald pernah mengatakan: “Dipercaya itu nilainya lebih besar ketimbang dicintai.”
Nah yuk mulai sekarang kita bangun sebuah kepercayaan dengan tidak merusak bagian dari kepercayaan tersebut, karena kepercayaan adalah sesuatu yang mahal, dan akan menjadi sulit kembali seperti semula ketika kepercayaan tersebut sudah hancur dan hilang.

About Author

Febby Ulvia Agustine
Febby Ulvia Agustine

Author

Hello, I am Febby Ulvia Agustine. I created this blog as a form expressing of my life. I'll update daily posts between review; writing, social activity, etc.

0 komentar:

Post a comment