Febby Ulvia Agustine

Monday, 21 December 2015

kecewa itu menguatkan, sebab kecewa berarti kalah

“Mengikhlaskan memang berat, namun itulah salah satu cara melupakan!”
Kecewa adalah satu kata yang tidak pernah habis dibahas ketika harapan tidak sesuai dengan realita, ketika ekspektasi terlalu tinggi namun kenyataannya tidak sejalan dengan prediksi kita.

Tidak bisa dihindari Tidak bisa dilupakan Tidak bisa dicerna dengan akal sehat Itulah kecewa….. Tertanam dalam relung jiwa tanpa disadari Bersemayan dihati tanpa dijumpai
Semua orang pasti penah merasakan kecewa, dalam hal apapun itu saya yakin pasti semua orang pernah mengalaminya. Bagaimana caramu mengatasi kecewa?
Pastinya diantara kita memiliki cara masing-masing dan tentunya berbeda-beda ketika dihadapkan pada posisi “kecewa”… Entah itu diam, marah atau malah balas dendam.
Kecewa itu hal yang wajar, namun menjadikan kecewa sebagai point pertama meratapi kesedihan itulah yang salah. Kita boleh saja kecewa, namun jangan menghambat semua kemajuan kita karena sebuah kekecewaan yang kita alami, rasakan dan hadapi. Kecewa itu menguatkan! Dengan adanya kecewa kita belajar ikhlas, belajar sabar, belajar kuat dan belajar banyak pengalaman untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Tidak percaya? Coba buktikan!
Misal kecewa dalam cinta…
Ini permasalahan yang kerap kali dipertanyakan oleh mereka para remaja yang curhat kepada saya, bahkan saya juga pernah mengalaminya loh hehehe
“Ketika kita menaruh harapan lebih ke si (dia) namun dianya biasa aja, menganggap kita itu bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa dalam hidupnya. Bahkan terucap kata this isn’t love

Nah loh! Yang seperti ini buat kita kecewa gak? Tentunya IYA! Tetapi tidak menghambat kita untuk bangkit kembali.
Saya ingat dengan kata-kata ini:

“Kita harus sadar bahwa nobody’s perfect. Kita bikin salah, lupa, dan lain sebagainya. Nah kalau semua orang itu ga ada yang perfect, ngapain juga kita berharap jauh ke mereka? We are all the same. Jangan memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi ke orang karena berharap ke orang itu bikin bete sendiri kalau ga kesampean. Jangan gantungkan kebahagianmu kepada orang lain. Dengan berharap berarti kita memberi syarat untuk kebahagiaan kita. So, try not to ngasih syarat buat kebahagiaan kita dengan menaruh ekspektasi ke orang lain….”

Jadi ketika kamu, aku atau siapapun merasakan kecewa ya disyukuri saja. Memang berarti ada yang salah dalam diri kita yaitu kita yang terlalu berharap lebih pada manusia, padahal dia juga tidak sempurna. Mulai sekarang tetaplah hanya berharap sama Allah yang dijamin tidak akan mengecewakan, selalu memberikan jawaban terbaik dari Doa-Doa yang telah kamu panjatkan. Percayalah!
Berharap boleh, tetapi tidak berlebihan. Tetaplah pada konteks biasa saja dan ingat bahwa no body’s perfect. Gantungkan harapan tertinggimu pada Tuhanmu sendiri…



Reading to Writing
Writing to Inspiring

Jakarta, 21/12/15
FUA





About Author

Febby Ulvia Agustine
Febby Ulvia Agustine

Author

Hello, I am Febby Ulvia Agustine. I created this blog as a form expressing of my life. I'll update daily posts between review; writing, social activity, etc.

0 komentar:

Post a comment