Febby Ulvia Agustine

Thursday, 22 December 2016

surga kecilku, Bunda!

surga kecilku, Bunda!

A : "Manajer itu ganteng banget ya, masih muda lagi"
B : "Enak kali ya punya suami yang mapan, ganteng dan sholeh"
A : "Enaklah, kita mau beli apa aja tinggal minta"
C : "Duh...ileh udah ngomongin kriteria calon suami aja, lulus aja belom wkwkwk"
A : "Gapapa kali siapa tau kesampean hahaha"
B : "Eh tapi bentar deh, kalian nanti kalau udah menikah mau jadi wanita karir atau wanita rumahan?"
A : "Wanita karir yang kitanya juga kerja terus waktu untuk anak cuma ada di malam hari dan weekend aja? Terus kalau jadi wanita rumahan yang full time ngurus rumah dan full time sama anak?"
B : "Yoi, kalau gue sih pengennya jadi wanita karirlah. Gila aja bokap gue udah biayain gue kuliah mahal-mahal masa iya gue enggak jadi wanita karir"
A : "Nah bener juga tuh, kalau lo pilih mana?"
C : "Emang kalau jadi full time mother nggak boleh sekolah sampai jenjang pendidikan paling tinggi?"


Perbincangan sederhana ketiga wanita yang bersahabat sejak SMA. Ketika saya masuk usia 20 tahun saya mulai mencari tahu apa sebenarnya perbedaan antara full time mother dengan wanita karir. Ada beberapa artikel dan beberapa buku parenting yang saya baca pada waktu itu. Tentunya saya sendiri bingung apakah nantinya saya ingin menjadi wanita karir atau menjadi full time mother. Memang benar bahwa pada fase usia 20 tahun keatas tentunya sudah mengalami fase kebimbangan antara pendidikan, karir dan menentukan pasangan hihihihi. Tidak menjadi hal yang tabu ketika usia 20 tahun keatas teman seangkatan kita sudah banyak yang menyebar undangan pernikahan hahaha

Jika melihat dari kasus perbincangan di atas ada dua pokok masalah, pertama menginginkan pasangan yang mapan, ganteng dan sholeh. Kedua bingung memilih untuk menjadi full time mother atau wanita karir. Yuk kita coba bahas satu persatu;

Untuk kasus yang pertama, tentunya semua wanita bahkan semua orang menginginkan 'kesempurnaan', namun yang perlu kita ketahui bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna. Mungkin ketiga hal tersebut didapat juga melalui proses panjang. Tidak ada yang instan. Seperti halnya sosok laki-laki mapan, ganteng dan sholeh tentunya dibelakangnya ada peran wanita yang menemaninya dari 0, entah itu ibunya, calon istrinya atau istrinya. Ya bisa dipakai dengan logika, mana ada laki-laki yang sudah berada pada fase tersebut mau dengan wanita yang biasa-biasa saja. So, untuk para wanita yang ingin mendapatkan laki-laki seperti itu ya kuncinya satu menjadi sosok yang cerdas, cantik dan sholehah juga. Tanpa susah payah akan datang laki-laki sesuai dengan apa yang kita harapkan. 

Untuk kasus yang kedua, menurut saya peran ibu untuk seorang anak tentu sangat amat berperan aktif dan berpengaruh besar. Wanita karir atau full time mother semua memiliki porsi masing-masing terhadap cara pengasuhan orang tua terhadap anaknya. Ibu adalah madrasah terbaik untuk anak-anaknya. Pertumbuhan dan perkembangan anak tentunya harus dalam pengawasan orang tua. Pembentukan karakter anak tumbuh dan berkembang atas kerja keras kedua orang tuanya. 

Kembali lagi menjadi wanita karir atau full time mother semua tergantung pilihan dan kesepakatan bersama antara suami dan istri. Namun jika suami meminta kita untuk menjadi full time mother ya sebisa mungkin harus kita lakukan dengan penuh keikhlasan, dengan catatan suami bisa memenuhi segala kebutuhan rumah tangga. Wanita karir ataupun full time mother tetap saja kodrat wanita adalah menjadi istri terbaik untuk suami dan ibu terbaik untuk anak-anaknya. Pendidikan pertama yang didapatkan oleh anak adalah melalui ibunya. Walaupun nantinya menjadi full time mother, kita harus tetap berpendidikan tinggi. Karena anak-anak membutuhkan ibu yang cerdas untuk menjadikannya anak yang cerdas. Generasi yang akan datang tergantung kita berperan sebagai orang tua. 

"Ihhh tapi kan sayang dong ijazah Sarjana bahkan Masternya kalau ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga"

Nah loh...muncul lagi pertanyaan semacam itu -_____-
Tidak ada yang percuma dan tidak ada yang mubazir, karena ilmu harus terus dipelajari dan dipahami. 

Rasulullah SAW bersabda: أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat” Hadits tersebut menjadi dasar dari ungkapan “Long life education” atau pendidikan seumur hidup. Kehidupan di dunia ini rupanya tidak sepi dari kegiatan belajar, sejak mulai lahir sampai hidup ini berakhir. 

Sudah jelaskan Hadits di atas?
Bahwa menuntut ilmu tidak ada matinya.
Jangan beranggapan kita kuliah sampai S2 sekalipun kalau nantinya jadi ibu rumah tangga itu akan menjadi hal yang mubazir, karena ilmu tersebut akan terus bermanfaat untuk mendidik anak-anak kita.


  • Ketika menjadi wanita karir, kita tentunya harus bisa membagi waktu antara pekerjaan, mengurus suami dan mengurus anak. Kita harus tahu secara detail apa yang anak butuhkan, mulai dari perkembangannya (sikap, mental, pendidikan, karakter). Ibu adalah orang pertama yang kepekaannya tidak bisa tertandingi oleh apapun terhadap anaknya. 

  • Ketika menjadi full time mother, walaupun kerjaannya cuma ngurus rumah, suami dan anak tetap saja harus memiliki hobi lain dan kegiatan lain yang mengembangkan bakat. Jangan lupa untuk bersosialisasi agar tidak boring, jangan menutup diri untuk berkembang juga. Ibu rumah tangga tidak boleh kalah hebat dengan wanita karir. Ibu rumah tangga juga harus berpendidikan tinggi, agar dapat mendidik anak-anaknya menjadi cerdas. 

Wanita kelak akan menjadi sayap (pelengkap) bagi laki-laki.

Jadi kamu ingin menjadi wanita karir atau full time mother?
Setiap pilihan selalu ada resiko, tetapi menjadi wanita karir atau full time mother keduanya adalah peran yang sangat mulia. Karena tujuan akhirnya adalah membahagiakan. Hal paling penting adalah tidak melupakan peran sebagai seorang ibu dan peran sebagai seorang istri. Karena ibu adalah madrasah terbaik untuk anak-anaknya kelak.

Ibu adalah malaikat kecil untuk anaknya, kesabaran dan keikhlasannya tak mampu diisyaratkan dengan sebuah kata karena itu semua disematkan dalam hati. Cinta yang tak pernah tertandingi oleh cinta yang lain. Ketulusan yang tak memerlukan penjabaran untuk dapat bisa dirasakan. 
Karena melalui senyumannya, terlahir sebuah harapan. Harapan akan masa depan.

Terima kasih Bunda, karena denganmu aku mengerti bahwa tidak ada cinta lain yang dapat menandingi cinta darimu, dedikasimu sangat tinggi bunda, tulus kasihmu kau pancarkan hanya untukku. Karena aku mencintaimu dengan hati, yang tak pernah ku sematkan pada wanita selain dirimu. Selamat hari Ibu, Bunda! :)

Semangat menjadi ibu terbaik
Semangat menjadi istri terbaik
Karena peran wanita sangat amat luar biasa untuk mencetak generasi yang luar biasa :)



With love
Febby Ulvia Agustine
Jakarta, 22 Desember 2016